Aku masih ingat tentang matahari terbit yang kami saksikan di pantai berpasir putih ketika itu. Angin berhembus membawa aroma asin air laut kala langit dipenuhi semburat jingga cerah. Telingaku sepertinya bahagia mendengar suara ombak yang berkali-kali datang menabrak karang. Aku berusaha menikmati tiap detik yang bisa kulalui di sana. Air laut yang tidak terasa dingin di telapak kakiku,hijaunya lumut menyerupai karpet yang menutupi bebatuan karang di sana,dan perasaan tenang karena aku memiliki beberapa teman yang berbagi kenangan yang sama denganku. Itu salah satu favoritku. Yang kemudian terasa begitu menyesakkan untuk diingat hingga tersungkur sendiri di atas sajadah menangisi kesendirian itu. Banyak hal terjadi jauh setelah road trip itu berakhir. Segalanya tak lagi sama. Tentang peristiwa di sekitarku,tentang mereka yang mematahkan sayapku. Yahh..ini seperti tamparan keras di pipiku.
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
29 Des 2014
Tentang Perubahan (1)
Aku masih ingat tentang matahari terbit yang kami saksikan di pantai berpasir putih ketika itu. Angin berhembus membawa aroma asin air laut kala langit dipenuhi semburat jingga cerah. Telingaku sepertinya bahagia mendengar suara ombak yang berkali-kali datang menabrak karang. Aku berusaha menikmati tiap detik yang bisa kulalui di sana. Air laut yang tidak terasa dingin di telapak kakiku,hijaunya lumut menyerupai karpet yang menutupi bebatuan karang di sana,dan perasaan tenang karena aku memiliki beberapa teman yang berbagi kenangan yang sama denganku. Itu salah satu favoritku. Yang kemudian terasa begitu menyesakkan untuk diingat hingga tersungkur sendiri di atas sajadah menangisi kesendirian itu. Banyak hal terjadi jauh setelah road trip itu berakhir. Segalanya tak lagi sama. Tentang peristiwa di sekitarku,tentang mereka yang mematahkan sayapku. Yahh..ini seperti tamparan keras di pipiku.
14 Feb 2014
4 Jan 2014
New Year's Wish
Sungguh mengharapkan 2014 berbaik hati kepada saya.
19 Okt 2013
Selama 16 menit 47 detik itu..
Ba’da maghrib menjelang isya’,Selasa 15 Oktober yang
bertepatan dengan 10 Dzulhijah 1434 H,di tengah suasana hangat Surabaya,seseorang
berbaik hati memperdengarkan suaranya kepada saya. Setelah siangnya kami sempat
beradu argumen yang kemudian membuat saya enggan berbicara dengannya ketika itu.
Tentang hal remeh yang kemudian membuat saya jadi lebih sensitif daripada layar
smartphone keluaran terbaru. Lalu
dengan tulus demi mengembalikan mood saya
(sepertinya begitu niatnya),seseorang itu menawari saya untuk memperdengarkan
suaranya ketika mengaji. Saya lalu mengiyakannya. Dengan harapan mood saya akan membaik setelah itu.
Dan disanalah kami. Pada masing-masing ruang yang berbeda
namun pada waktu yang sama. Indonesia bagian barat. Terpisah jarak +90 Km.
Tidak terlalu jauh,dan sinyal telepon masih cukup bersahabat. Kecuali pada
waktu-waktu tertentu ketika server
messenger sedang lumpuh. Jadi saya mulai memasang headset pada telinga
saya. Bersiap untuk mendengarkan suaranya via telepon. Tadinya saya sibuk main
Zuma sambil menyalakan musik dari laptop. Kemudian saya segera mematikan musik
dari Winamp,mematikan game saya yang baru setengah permainan,dan mematikan
kipas angin kecil saya yang bunyi baling-balingnya mulai berisik.
Lalu dia mulai membaca ayat-ayat suci di tiap baris yang ada pada kitab yang suci pula di
depannya. Suaranya tanpa ragu. Mantap. Meskipun ada beberapa kata yang kurang
tepat,dia mengulanginya dengan suara yang sama mantapnya. Saya merinding
sekaligus berdebar-debar mendengarkannya. Saya mencari-cari opsi untuk merekam
suaranya di handphone saya,tapi
nihil. Maklum HP jelek. Saya melirik jam di HP saya sebentar-sebentar,berharap
waktu berjalan lebih lambat. Saya mulai berkeringat. Kepanasan. Bukan karena
saya setan! Tapi karena kipas yang saya matikan tadi. Saya eman sekali untuk
menyalakan kipas lagi. Mending saya kepanasan biar suara ngajinya jadi jelas.
Saya nikmati suaranya,saya membukakan telinga lebar-lebar pada ayat-ayat suci
yang dia perdengarkan. Saya langsung teringat Al-Qur’an pemberiannya yang
belakangan jarang saya baca. Astaghfirullah. Saya berkata pada diri saya
sendiri untuk mengaji lebih rajin lagi.
15 Feb 2013
Menuwir :D
Hello world! And hello again February 14th!
Wow! This is my day! 14 Februari ke-22 dalam hidup saya. Mostly,I have to thank God for everything in my life.
Terima kasih untuk sms tengah malam dari abang,persis seperti yang abang lakukan tahun lalu. Untuk telepon abang pagi-pagi yang saya sebut sebagai serangan fajar. Untuk teman-teman yang bela-belain kasih kejutan sore harinya pakai bawa-bawa cupcake spongebob 4 biji plus lilin 22 nya. Untuk ibu yang rela menerima 19 jahitan karena melahirkan saya dalam keadaan sungsang 22 tahun lalu,dan untuk semua sayang,cinta kasih,marah,tangisnya sepanjang ini pula. Untuk semua hati yang peduli kepada saya,untuk lengan-lengan hangat yang menemani saya,dan pasti untuk semua kebahagiaan yang pernah ada 
This is a great feeeling! Ada di hari ulang tahunmu yang sudah kamu impikan bertahun-tahun sebelumnya. Lalu melihat sendiri apakah mimpi itu terwujud. Ya,saya pernah membayangkan hari ini. Jadi dewasa,lulus sekolah,meraih cita-cita saya saat itu. Keadaan mungkin tidak sama persis seperti waktu itu,tapi ada beberapa hal yang berubah jadi lebih baik. Dan semua hal patut disyukuri. Positif dan negatif. Apapun itu. Meskipun ngelakuinnya nggak segampang ini juga.
We can not choose where we come from,but we can choose where we go from there*
Saya berusaha untuk pergi ke arah positif. Jadi orang yang lebih baik dari sekarang. Better man.
(*)Quote dari film “The Perks of Being a Wallflower”
Langganan:
Postingan (Atom)


