25 Feb 2012

As Light As a Cloud




Sebagai seorang yang awalnya terlahir sebagai anak tunggal,saya merasa kesepian. Saya mendambakan hadirnya seorang saudara yang lebih tua untuk jadi tandem saya. Tapi saat usia saya delapan tahun,Tuhan mengirimkan seorang adik kepada saya. Oke,cukup meredam rasa kesepian saya. Mungkin karena awalnya saya lebih kepingin punya kakak daripada adik,lalu saya merindukan sosok ngemong itu datang pada hidup saya.

Ada banyak kakak sepupu yang cowok dan teman-teman cowok yang bisa dijadikan tandem,tapi rasanya bisa melewati batas privasi mereka sebagai makhluk yang juga butuh sosok perempuan (baca : pacar),jadinya nggak maksimal saya memanfaatkan fungsi mereka (jahat ya kata-katanya?hehehe). Saya selalu kalah sama pacar sepupu-sepupu saya,begitu juga dengan teman-teman..sungkan.
Lalu setahun belakangan saya merasa nemu sosok itu. Awalnya saya sama sekali nggak welcome dengan kehadirannya. Sayapun awalnya cuma menganggap sebagai kakak saja,karena dia pernah bilang ke saya kalau dia kehilangan adiknya. Pikir saya waktu itu,impas. Saya butuh kakak,dan dia juga mungkin kangen adiknya. Tapi lama-kelamaan,dari curhat-curhatan,dari tukar opini,minta pendapatnya,saya jadi nyambung dengan orang ini.


Tapi ternyata ada udang di balik rempeyek. Dia mengakui perasaan yang lain ke saya. Berkali-kali. Saya belum siap untuk memulai cerita baru,I still feel happy to be my own hero. Dan berkali-kali juga saya mengabaikannya. Jahat ya? . Bukan. Hanya belum waktunya. Lalu saya mulai membiasakan diri untuk membuka hati. Membuka pikiran juga. Sendiri mungkin bisa happy tapi kalau berdua,beban bisa dibagi dan happy-nya juga bisa dua kali lipat. Namanya juga menghibur diri sendiri. Hihihihi.

Kemudian datang suatu keadaan yg mengharuskan kami berpisah jarak. Tidak begitu jauh. Tapi cukup untuk merenggangkan jalinan yang sudah sedikit merapat. Dari situ saya mulai merasa,emmm...ada yang hilang. Padahal masih bisa sms,telpon,ym,twitter,email ya. Hehehe. Komunikasi jadi seperti saklar lampu. On off. Ada rasa kikuk yang lebih hebat dari pada waktu-waktu sebelum kami harus berjarak. Kemudian kami ditempatkan lagi di situasi yang mempersilahkan kami untuk merapatkan kembali jalinan yang nyaris lepas.
Saya kemudian menimang-nimang apa yang selama ini menggelayut di benak saya. Sesuatu atau sosok yang saya butuhkan. Atau hal lain yang saya belum bisa mendefinisikannya. Jawabannya lalu datang tiba-tiba saat ulang tahun saya.  Nasi kuning! (lhoh?). Nasi kuning ini yang membawa saya menuju ujung (atau mungkin awal?) dari segala ketakutan,kekhawatiran dan harapan saya pada orang ini.

Dia berbeda. Bukan seperti yang lain. Yang ada di cerita teman-teman saya,atau di lembaran robek saya yg sudah terlepas dari jilidnya. Dan yang pasti,ngemong!. He cares to me like my brother and fun like my bestfriend. Saya tidak bisa menjelaskannya satu-persatu disini,terlalu terbuka. Tapi pas,semuanya ada. Meskipun segalanya dimulai di keadaan yang mengharuskan kami untuk tetap berjarak,but we give the best in everything for each other. Dan saya berharap untuk tidak patah hati lagi,it means i hope he will be the one. Amiiiiienn..


NB : lagu Homogenic –Seringan Awan yg memprovokasi saya! Hihihi